NNB Indonesia — Rencana pembukaan jalur penyeberangan kapal feri Marapokot–Sape dinilai sebagai terobosan strategis transportasi antarprovinsi yang menghubungkan Provinsi Nusa Tenggara Timur melalui Pelabuhan Marapokot, Kabupaten Nagekeo, dengan Provinsi Nusa Tenggara Barat melalui Pelabuhan Sape, Kabupaten Bima.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Wakil Bupati Nagekeo, Gonzalo G. Muga Sada, menyatakan bahwa pembukaan jalur ini merupakan jawaban konkret atas keluhan masyarakat, khususnya para pelaku usaha angkutan dan ekspedisi antarpulau yang selama ini mengalami pembengkakan biaya akibat jarak tempuh yang panjang serta medan yang sulit dari Flores menuju Jawa.

“Penyeberangan Marapokot–Sape adalah gebrakan transportasi antarprovinsi antara NTT dan NTB. Jalur ini menjawabi keluhan para pengusaha ekspedisi yang selama ini mengalami pengurangan tonase dan biaya tinggi akibat jauhnya jarak dan beratnya medan perjalanan,” ujar Gonzalo.

Wakil Bupati Nagekeo, Gonzalo G. Muga Sada.

Menurutnya, dengan dibukanya jalur tersebut, mobilitas barang, jasa, dan manusia dari Flores menuju Jawa akan menjadi lebih mudah, murah, dan cepat. Para pengusaha angkutan bahkan menilai bahwa ketika telah tiba di Sape, mereka seolah sudah sampai di Jawa karena kondisi jalan dan jarak tempuh yang relatif lebih lancar.

“Bagi para pengusaha, kalau sudah tiba di Sape, mereka merasa sudah tiba di Jawa. Medan dan jaraknya lebih mudah dan lancar, sehingga sangat membantu efisiensi distribusi,” jelasnya.

Selain dampak pada kelancaran distribusi, Gonzalo menegaskan bahwa pembukaan jalur Marapokot–Sape juga akan memberikan efek domino terhadap peningkatan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja di Kabupaten Nagekeo. Wilayah Marapokot, Nangadhero, dan sekitarnya diproyeksikan menjadi kawasan yang terdampak langsung, selain Kota Mbay dan Nagekeo secara keseluruhan.

Untuk menyukseskan rencana tersebut, Pemerintah Kabupaten Nagekeo pada tahun ini telah mengalokasikan anggaran khusus guna melakukan studi kelayakan. Kajian tersebut akan dilakukan oleh lembaga independen dan mencakup analisis dampak ekonomi, sosial, budaya, pariwisata, serta aspek pendukung lainnya.

“Pemda Nagekeo telah menyiapkan dana untuk studi kelayakan agar pembukaan jalur ini benar-benar terukur dan memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat,” pungkas Wakil Bupati Nagekeo.