
Kunjungan Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, ke lokasi terdampak bencana banjir rob di Desa Tunggulsari, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, membawa secercah harapan baru bagi masyarakat pesisir yang selama ini merasa terisolasi dalam kegelapan. Kehadiran orang nomor satu di Jawa Tengah tersebut didampingi oleh Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, beserta jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait. Selain menyalurkan bantuan sosial berupa paket sembako untuk meringankan beban warga yang rumah dan tambaknya terendam air pasang laut, momen kunjungan kerja ini dimanfaatkan secara maksimal oleh warga setempat untuk menyuarakan berbagai keluhan mendasar terkait buruknya infrastruktur di wilayah mereka.
Salah satu warga yang berani bersuara di tengah kerumunan adalah Jumiah, seorang nenek yang tercatat sebagai warga RT 5 RW 1 Desa Tunggulsari. Dengan langkah perlahan sembari menggandeng erat cucunya yang masih kecil, Jumiah menerobos kerumunan warga untuk mendekati rombongan pejabat. Di hadapan Ahmad Luthfi dan Risma Ardhi Chandra yang sedang meninjau tanggul dan pemukiman yang tergenang banjir rob, Jumiah meluapkan keluh kesah yang selama ini dipendamnya bersama warga desa lainnya. Ia mengadukan kondisi desanya yang mencekam dan gelap gulita saat malam hari akibat padamnya lampu Penerangan Jalan Umum (PJU) selama berbulan-bulan.
Kondisi kegelapan ini membentang mulai dari gapura masuk di Jalan Raya Juwana-Tayu hingga ke area pemukiman dan kawasan pertambakan warga. Menurut Jumiah, padamnya fasilitas penerangan publik ini sangat mengganggu mobilitas warga, terutama pada malam hari saat air rob sering kali naik tanpa terduga. Tanpa adanya cahaya yang memadai, warga kesulitan memantau pergerakan air laut yang masuk ke pekarangan rumah mereka serta mengancam keselamatan anak-anak maupun lansia yang rentan terperosok ke dalam saluran air atau area tambak yang dalam.
Jumiah mengungkapkan bahwa ketiadaan lampu penerangan jalan ini sudah berlangsung sangat lama tanpa ada upaya perbaikan yang nyata dari dinas terkait. "Penerangan jalan dari jalan raya sampai sini mati tidak ada yang hidup," keluhnya dengan nada suara yang bergetar namun penuh harap. Keluhan Jumiah tidak berhenti pada masalah lampu jalan saja. Ia juga membeberkan persoalan lain yang tidak kalah krusial, yaitu seringnya terjadi pemadaman listrik secara bergilir oleh pihak Perusahaan Listrik Negara (PLN) di wilayah Kecamatan Tayu dan sekitarnya. Kombinasi antara lampu jalan yang mati total dan pemadaman listrik berkala ini membuat Desa Tunggulsari bagaikan desa mati saat malam tiba.
Mendengar keluhan yang disampaikan secara langsung oleh warga kecil dengan penuh kepolosan tersebut, Ahmad Luthfi menunjukkan respons cepat dan kepemimpinan yang tegas. Mantan Kapolda Jawa Tengah itu tidak sekadar menampung aspirasi, melainkan langsung mencari solusi konkret di tempat kejadian. Ia seketika menoleh ke arah Plt Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, yang berdiri tepat di sampingnya. Dengan tatapan mata yang tajam dan nada bicara yang penuh penekanan, Luthfi langsung melontarkan pertanyaan instruktif, "Atasi kapan?" Pertanyaan spontan ini menjadi penanda bahwa pemerintah provinsi menuntut tindakan cepat dari pemerintah daerah setempat demi kenyamanan warga.
Mendapat desakan langsung dari Pj Gubernur di hadapan publik dan awak media, Plt Bupati Pati, Risma Ardhi Chandra, langsung memberikan jaminan serta komitmen penuh. Tanpa ragu, ia berjanji bahwa jajarannya melalui Dinas Perhubungan (Dishub) dan dinas teknis terkait akan segera turun ke lapangan pada hari berikutnya, yakni Rabu, 24 Juni 2026, untuk melakukan inventarisasi kerusakan dan melakukan perbaikan menyeluruh terhadap jaringan lampu jalan yang padam. "Besok langsung diperbaiki dan dikerjakan," tegas Risma guna menenangkan kekhawatiran warga dan memberikan kepastian hukum atas pelayanan publik yang sempat terabaikan.
Bagi Jumiah, keberadaan aliran listrik yang stabil dan lampu penerangan jalan yang memadai bukan sekadar masalah kenyamanan visual, melainkan urat nadi pertahanan ekonominya. Sehari-hari, Jumiah menyambung hidup dengan berjualan jajanan tradisional di sekitar desanya. Aktivitas persiapan dagangan sering kali harus ia mulai sejak dini hari, saat kondisi luar rumah masih gelap gulita. Ketika listrik padam atau jalanan gelap tanpa lampu PJU, proses produksinya terhambat, dan ia kesulitan untuk menjajakan dagangannya dengan aman. Keamanan wilayah pertambakan yang menjadi sektor ekonomi utama Desa Tunggulsari juga sangat bergantung pada penerangan ini, mengingat para petani tambak sering kali harus memeriksa kondisi kolam udang dan bandeng mereka pada malam hari untuk mencegah pencurian atau memantau kincir air.
Jumiah menceritakan betapa menyiksanya pemadaman listrik bergilir yang kerap terjadi tanpa pemberitahuan yang jelas dari PLN. Ia mencontohkan kejadian pada hari Sabtu sebelum kunjungan tersebut, di mana listrik padam total mulai pukul 16.00 WIB hingga pukul 19.00 WIB. Waktu-waktu tersebut merupakan jam produktif bagi ibu rumah tangga dan pelaku usaha mikro seperti dirinya untuk mempersiapkan dagangan esok hari. "Biasanya bergilir. Hari Sabtu kemarin sempat jam 4 sore sampai jam 7 malam. Harapannya supaya PLN dan petugasnya agar masyarakat kecil bisa beraktivitas seperti di tambak dan jualan," tandas Jumiah dengan penuh harap agar keluhannya didengar oleh manajemen PLN wilayah setempat.
Kondisi Desa Tunggulsari yang berada di kawasan pesisir Tayu memang memerlukan perhatian khusus dari pemerintah. Wilayah ini tidak hanya rentan terhadap abrasi dan banjir rob, tetapi juga memiliki tingkat korosif yang tinggi akibat uap air laut yang asin. Hal ini sering kali mempercepat kerusakan pada instalasi kabel listrik eksternal, tiang lampu, dan rumah lampu PJU jika tidak dirawat secara berkala menggunakan material khusus yang tahan karat. Oleh karena itu, warga berharap perbaikan yang dijanjikan oleh Plt Bupati Pati tidak hanya bersifat sementara atau sekadar formalitas untuk menyenangkan hati Pj Gubernur, melainkan sebuah solusi jangka panjang dengan penggantian komponen lampu yang lebih berkualitas dan tahan terhadap cuaca ekstrem pesisir.
Selain masalah teknis infrastruktur lampu jalan, koordinasi antara Pemerintah Kabupaten Pati dengan pihak PLN Unit Layanan Pelanggan (ULP) setempat juga menjadi sorotan pasca-kejadian ini. Seringnya pemadaman listrik bergilir di wilayah pedesaan pesisir sering kali disebabkan oleh gangguan jaringan akibat pohon tumbang, tiang miring akibat tanah labil pasca-banjir, atau beban gardu yang berlebih. Melalui momentum aduan langsung ini, diharapkan ada sinergi yang lebih intensif antara Pemkab Pati dan PLN untuk melakukan pemangkasan dahan pohon secara rutin di sepanjang jalur kabel utama serta melakukan peremajaan trafo listrik di wilayah rawan banjir rob agar pasokan listrik ke rumah-rumah warga dan fasilitas umum tetap terjaga kestabilannya.
Respon taktis yang ditunjukkan oleh Ahmad Luthfi dalam kunjungan kerja tersebut mendapat apresiasi dari berbagai kalangan masyarakat yang hadir di lokasi. Gaya kepemimpinan lapangan yang langsung mengeksekusi solusi dinilai sangat efektif untuk memotong birokrasi yang berbelit-belit, yang sering kali menjadi penghambat utama penyelesaian masalah fasilitas umum di tingkat desa. Dengan adanya instruksi langsung dari tingkat provinsi, jajaran birokrasi di tingkat kabupaten dipaksa untuk bergerak lebih cepat dan responsif terhadap keluhan masyarakat bawah. Warga Desa Tunggulsari kini menanti realisasi janji tersebut dengan harapan malam-malam mereka tidak lagi diselimuti kegelapan yang mencekam, dan denyut nadi perekonomian pesisir dapat kembali berputar dengan normal dan aman.


